Jakarta,Kantorberita.id
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengorbitkan drone atau pesawat tanpa awak pada Kamis (12/10) untuk memantau aktifitas gunung agung 
Penerbangan sejumlah drone diungkapkan Kepala BNPB, Willem Rampangilei sebagai salah satu langkah pemantauan aktivitas kawah Gunung Agung terkini. Sebab diketahui, berdasarkan data dan analisis, aktivitas vulkanis berupa dorongan magma ke permukaan masih berlangsung sejak status Awas atau Level 4 ditetapkan pihak PVMBG pada tanggal 22 September 2017.
Rekahan tersebut lanjutnya, terlihat asap putih yang diketahui merupakan uap air akibat panasnya magma di dalam inti gunung api. Walau dinilai tidak berbahaya karena masih bertekanan rendah dengan tinggi berkisar 50 meter hingga 200 meter, PVMBG tetap menetapkan zona aman dengan radius 9 kilometer dari puncak kawah serta 12 kilometer di sektor utara – timur laut dan sektor tenggara – selatan – barat daya.
“Kita harus kerahkan drone yang memiliki spesifikasi khusus terbang tinggi yang mampu mendokumentasikan semua fenomena di kawah. Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan update,” kata Willem.
Dalam misi tersebut, pihaknya mengerahkan 5 unit drone dengan spesifikasi berbeda, yakni 3 unit drone fixed wing yaitu Koax 3:0, Tawon 1.8 dan Mavic serta 2 unit drone jenis rotary wing yakni, multi rotor M600 dan Dji Phantom.
Mengingat tinggi Gunung Agung sekitar 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Rata-rata drone didesain terbang pada ketinggian 7.000 kaki sehingga saat diperlukan untuk terbang tinggi tidak banyak yang tersedia. Drone Koax 3:0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13.000 kaki. Mesin menggunakan baham bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.
Drone rotary wing digunakan mampu terbang ketinggian 500 meter untuk memetakan permukiman dan alur-alur sungai. Untuk mendukung semua itu digunakan Ground Control Station yang mobile.
“Persiapan terbang telah dilakukan pada Rabu (11/10). Flight plan dan ujicoba terbang telah dilakukan hari ini dari landas pacu di Kubu. Siang tadi flight plan terbang berputar Gunung Agung sampai ketinggian 11.500 kaki telah dilakukan menggunakan drone jenis Tawon 1.8,” jelasnya.
Namun, lanjutnya, ketika drone terbang di ketinggian 6.000 kaki, kamera mengalami masalah maka drone kembali ke landasan. Pesawat normal dan mampu terbang tetapi adanya risiko blind flight di gunung maka penerbangan tidak dilanjutkan. Rencana misi penerbangan akan dilakukan hari ini Kamis (12/10) dari Kubu.
Penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.
Beberapa kali BNPB bersama Lapan, BIG, BPPT, TNI, Basarnas, BPBD dan relawan menerbangkan drone untuk penanganan bencana seperti dalam penanganan letusan Gunung Sinabung, Gunung Kelud, banjir Jakarta, longsor Ponorogo, longsor Banjarnegara dan lainnya. Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan bahwa drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana.
Bahkan saat ini, drone banyak juga digunakan oleh media massa dalam peliputan bencana karena drone memiliki potensi yang besar dalam menyiarkan berita kepada publik. Mereka dapat menggunakan perangkat ini untuk melaporkan berita dari berbagai perspektif.  Gambar dan video yang dihasilkan dari drone menjadi sumber informasi yang penting bagi pemerintah selaku pemegang keputusan, dan juga bagi masyarakat dalam angka memberikan informasi.(WID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here