Desa Saketa Ada Larangan Adzan Gunakan Pengeras Suara

1
334117
Masjid Al-Munawwarah Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan

KantorBerita.id, Maluku Utara – Sejumlah tokoh pemuda Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, memprotes kebijakan para tetua kampung yang melarang penggunaan pengeras suara saat melantunkan adzan Dzuhur dan Ashar di Masjid. Mereka menilai, larangan tersebut sudah mengarah ke ajaran Syiah yang hingga kini masih dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Itu (larangan adzan dengan lantang, red) peninggalan leluhur yang menurut kami sudah mengarah ke Syiah. Tapi para orang tua masih mempertahankannya hingga kini. Ini yang membuat bingung,” ungkap para pemuda Saketa kepada KantorBerita.id, Kamis (08/02/2018)

Akibat protes akan pelarangan itu, timbullah polemik antara kaum muda dan tua di Saketa. Bahkan kelompok mahasiswa yang pernah turun di kampung itu pun pernah melakukan protes. Namun lagi-lagi para sesepuh tetap bertahan dengan adat kebiasaannya. Bahkan warga yang pernah nekat adzan menggunakan speaker pun dimarahi kaum tua.

Camat Gane Barat Jamal Ishak saat dikonfirmasi KantorBerita.id menuturkan, larangan adzan di waktu Dzuhur dan Azhar bukan lagi hal baru di Saketa. Pasalnya, larangan itu mengikuti tradisi moyang mereka. “Jadi sudah begitu dari zaman dulu,” tuturnya.

Jamal menegaskan, kebiasaan itu tidak ada kaitannya dengan ajaran Syiah. Menurutnya, itu hanya masalah kepercayaan para tetua. “Jadi tiba waktu salat Dzuhur dan Ashar mereka tetap melaksanakan sebagaimana diperintahkan,” katanya.

Yang membedakan, sambung Jamal, hanya pada teknis adzan. Dimana pengeras suara memang dilarang para sesepuh saat adzan dua waktu salat itu. “Tifa tetap dipukul, adzan tetap dikumandangkan. Hanya saja tidak menggunakan toa sebagaimana di masjid-masjid pada umumnya,” ungkapnya.

Kapolres Halsel AKBP Irfan SP Marpaung saat dikonfirmasi langsung memerintahkan anggotanya melakukan pengecekan kebenaran kabar tersebut. Dari hasil laporan personel Polres, diketahui informasi pelarangan itu benar adanya. Meski begitu, Kapolres memastikan tak ada larangan menunaikan ibadah.

“Menurut keterangan dari beberapa tokoh agama di Saketa, terkait masalah salat Dzuhur dan Ashar tidak ada larangan sama sekali untuk melaksanakan salat di masjid. Namun terkait masalah adzan pada waktu salat dua waktu itu berdasarkan adat istiadat para tetua terdahulu di Saketa bahwa tetap melaksanakan adzan namun tidak dianjurkan untuk menggunakan pengeras suara,” jelas Kapolres.

Kapolres menambahkan, para tokoh agama di Saketa sudah berulangkali menyampaikan kepada tetua imam dan membahas masalah tersebut.

“Namun tetap saja kebiasaan tersebut belum bisa hilang dan dari tetua imam sendiri menyampaikan bahwa kebiasaan adzan tidak menggunakan pengeras suara sudah ada sejak dahulu dari sejarah lima negeri,” tandasnya. (iel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here