40 Tahun Pasca Revolusi, Mantan Presiden Iran Kritik Khomeini

0
152296

Empat puluh tahun telah berlalu sejak Revolusi Islam Iran, di mana pemerintah Shah Mohammad Reza Pahlevi yang didukung Amerika runtuh. Tak lama kemudian lahir Republik Islam Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini juga kembali ke Iran setelah 14 tahun mengasingkan diri di Perancis.

Presiden terpilih pertama Iran, yang kemudian digulingkan oleh Khomeini, baru-baru ini mengatakan kepada VOA bahwa ia dan banyak pihak yang dulu melakukan revolusi merasa dikhianati oleh Ayatollah, yang kini membentuk kediktatoran baru, hal yang tidak pernah mereka sadari sebelumnya.

Bagi mereka yang ingat Revolusi Islam Iran tahun 1979, saat-saat ketika pesawat Ayatollah Ruhollah Khomeini tiba di Teheran dari Paris, adalah saat ketika rejim monarki lama Syah Mohammed Reza Pahlevi runtuh, dan memberi jalan berdirinya Republik Islam Iran yang baru.

Abolhassan Bani Sadr, yang menjadi presiden terpilih pertama Iran tak lama setelah revolusi itu, ikut berada dalam penerbangan bersejarah dari Paris ke Teheran dan menyampaikan kepada VOA bagaimana perasaannya ketika pesawat itu mendarat di bandara Mehrabad, Teheran.

Abolhassan Bani Sadr mengatakan kami sangat berharap dan hampir sepenuhnya yakin bahwa tujuan dan prinsip-prinsip revolusi yang digagas oleh Ayatollah Khomeini akan tercapai, dan bahwa ia akan menjadi benteng bagi seluruh kekuatan yang berupaya mengembalikan negara itu ke masa lalu.

Bani Sadr Tak Pernah Mengira Khomeini akan Berbohong

Ketika ditanya apakah ia terkejut dengan perubahan yang terjadi, ketika Khomeini mulai menunjukkan kecenderungan menciptakan rezim otoriter berdasarkan Islam Syiah? Bani Sadr mengatakan tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa pemimpin keagamaan itu akan berbohong kepada rakyat.

Ayatollah Khomeini dalam penerbangan dari Paris ke Teheran pasca tergulingnya Syah Iran tahun 1979 (foto: dok).

Ayatollah Khomeini dalam penerbangan dari Paris ke Teheran pasca tergulingnya Syah Iran tahun 1979 (foto: dok).

Bani Sadr mengatakan ia hampir yakin bahwa pemimpin keagamaan itu tidak akan berbohong dan tidak berhasrat duduk di kekuasaan karena berdasarkan sejarah, peran pemimpin keagamaan di Iran adalah untuk mengkritisi mereka yang duduk di kekuasaan, terutama diktator. Jadi, ujar Bani Sadr, ia tidak membayangkan akan terbentuknya kediktatoran baru sebagaimana yang terjadi di Perancis atau Rusia dimana terbentuk kediktatoran pasca revolusi.

Bani Sadr mengenang kembali bagaimana pasca revolusi itu ia dipilih sebagai presiden oleh mayoritas rakyat, tetapi mengatakan Khomeini mengatakan kepada tim-nya bahwa “sekalipun 35 juta orang dari 38 juta jumlah penduduk Iran tahun 1979 itu mengatakan “ya” untuk suatu hal, ia akan mengatakan “tidak.”

Ayatollah Ruhollah Khomeini (tengah) dan PM Iran Mehdi Bazargan (kanan) di Teheran, 6 Februari 1979 (foto: dok).

Ayatollah Ruhollah Khomeini (tengah) dan PM Iran Mehdi Bazargan (kanan) di Teheran, 6 Februari 1979 (foto: dok).

Perang Iran-Irak Ubah Konstelasi Politik di Iran

Beberapa bulan menjelang revolusi, setelah rancangan konstitusi baru Iran disetujui, Bani Sadr mengatakan baru ia dan para pendukungnya menyadari bahwa Khomeini tidak akan menyerahkan kekuasaan kepada rakyat, melainkan berupaya menggunakannya demi kepentingannya. Kesadaran itu muncul setelah Khomeini memebntuk “Dewan Pakar” baru untuk meratifikasi keputusan-keputusan pejabat-pejabat terpilih.

Bani Sadr menilai Ayatollah Khomeini sebenarnya tidak akan pernah dapat merebut kekuasaan dan menggulingkan dirinya sebagai presiden seandainya tidak terjadi Perang Iran-Irak pada tahun 1980-1988.

Tak Ada yang Menyangka Shah Reza Pahlevi Dapat Digulingkan

Mehrdad Khonsari, yang menjabat sebagai atase pers di Kedutaan Iran di Washington DC ketika Shah Reza Pahlevi digulingkan mengatakan kepada VOA, ia “tidak pernah membayangkan bahwa sebuah revolusi akan berhasil menggulingkan Shah.”

“Saya tidak melihat rezim itu akan runtuh atau bahkan skenario dimana Shah Reza Pahlevi akan meninggalkan negara itu. Saya juga tidak membayangkan bahwa Republik Islam Iran yang baru akan bertahan selama 40 tahun sebelum ada semacam rasa lega atau kebebasan diantara kita. Hal yang memang sejauh ini belum kunjung terjadi,” ujarnya.

Shah Iran Reza Pahlevi dan permaisuri, Farah Diba ketika masih berkuasa di Iran (foto: dok).

Shah Iran Reza Pahlevi dan permaisuri, Farah Diba ketika masih berkuasa di Iran (foto: dok).

Dalam pandangannya, dampak Revolusi Islam Iran tahun 1979 dapat dijelaskan secara sederhana lewat sebuah undang-undang yang dibuat parlemen Iran baru-baru ini tentang devaluasi.

“Dolar Amerika hari ini bernilai 2.000 kali lebih banyak dibanding 40 tahun lalu. Singkatnya, inilah kisah dan penderitaan rakyat Iran saat ini akibat menyerahkan diri pada tatanan politik baru yang tidak mereka pahami,” tambah Mehrdad.

Mehrdad Khonsari menambahkan dampak negatif revolusi terakhir tahun 1979 itu membuat rakyat Iran “khawatir untuk memilih sesuatu yang baru.”

Peringatan Revolusi Islam Iran Kembali Kecam Amerika

​Pada peringatan 40 tahun Revolusi Islam Iran 11 Februari ini, Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah rapat umum mengatakan musuh-musuh negara itu tidak akan mencapai apa yang disebutnya sebagai ‘’tujuan jahat’’ mereka. Kerumunan itu juga meneriakkan “Mati lah Amerika” dan “Mati lah Israel.”

Tahun lalu Amerika menarik diri dari perjanjian nuklir yang disepakati dengan lima negara adidaya lainnya dan Iran, yang membatasi program nuklir negara itu dan kembali memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi yang tegas. (em)

Kantor Berita ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here