Dua Hafiz Muda Indonesia yang Jadi Imam Tarawih di AS

0
22142

Masjid-masjid di Amerika semakin memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk tampil menjadi imam, bagian dari program regenerasi imam dan mendapatkan imam dari komunitas setempat, supaya masjid tidak lagi harus ‘mengimpor’ imam dari luar AS. Program itu dimungkinkan dengan semakin berkembangnya sekolah-sekolah untuk menghafal Alquran, hifz school.

Dua dari anak-anak muda yang selama bertahun-tahun ini diberi kesempatan itu adalah Ifdal Yusuf dan Muhamad Abdul-Hafiz Zakaria, dua diaspora Indonesia. Ifdal, kelahiran Jakarta yang hari ini berusia 23 tahun, tinggal di kota Dallas, Texas. Dan Muhamad, yang Maret lalu berusia 17 tahun, tinggal di kota College Park, Maryland.

Proses menjadi imam dimulai dengan menugaskan murid-murid sekolah hifz, yang sudah hafal quran, memimpin sholat. Seiring waktu, manakala hapalan mereka semakin baik dan pengalaman menjadi imam semakin banyak, mereka dipercaya menjadi imam tarawih.

Ifdal Yusuf, hafiz berusia 23 tahun, tinggal di kota Dallas, Texas.

Ifdal Yusuf, hafiz berusia 23 tahun, tinggal di kota Dallas, Texas.

Bagi Ifdal, yang sejak usia 12 sudah hafal quran, sudah 9 tahun ini ia menjadi imam.

Sementara bagi Muhamad, yang hafal quran sejak usia 11:

“I started leading tarawih may be like five years ago.” (Saya mulai memimpin/menjadi Imam tarawih mungkin sejak 5 tahun lalu)

Ifdal dan Muhamad yang sama-sama sejak kecil belajar mengaji, mengakui tidak mudah menghafal quran. Ifdal malah sempat ingin menyerah.

“Tahun pertama itu, susah, kan dari sekolah umum masuk sekolah hifz. Fokusnya susah. Bosan. Sehari delapan jam, (belajar) Quran. Pulang, Quran lagi,” papar Ifdal.

Selepas SMA, Ifdal belajar Bahasa Arab, Fiqh, dan Tafsir di Bayyinah Institute di Dallas, Texas. Ilmu memperkuat niatnya mempelajari Quran, sementara undangan menjadi imam terus mengalir.

Muhamad Abdul-Hafiz Zakaria (17 tahun), tinggal di kota College Park, Maryland.

Muhamad Abdul-Hafiz Zakaria (17 tahun), tinggal di kota College Park, Maryland.

Muhamad sejak kecil diarahkan orangtua untuk menghafal quran. Setelah sempat masuk hifz school, sambil menjadi imam, ia kini melanjutkan sekolah untuk menyelesaikan SMA. Tetapi interaksi dengan alquran bukan berarti selesai.

“You are gonnna have to spend a lot of time, memorizing and reviewing, probably at least an hour, may be more than that, set time aside from your day to review the quran, memorize the quran and learn the meaning,” ujar Muhamad.

Berdasar pengalaman, kata Muhamad, untuk menghafal Alquran, kita harus meluangkan waktu untuk membaca, mengkaji, dan memahami makna ayat-ayat Alquran tersebut.

Di sela rutinitas menjadi imam, mengajar mengaji dan menjaga hafalan Quran, Ifdal mengejar ilmu psikologi klinis di University of Texas at Arlington, Muhamad mengincar jurusan mechanical engineering, University of Maryland.

Keduanya bertekad mengantongi sarjana di Amerika sebelum melanjutkan pendidikan ke-Islaman di Mekkah atau Madinah. Setelah itu, barulah akan berpikir menjadi imam.

Jadi, “Ifdal bukan (belum jadi) Imam sekarang. Tetapi ingin jadi Imam,” katanya merendah.

Dengan rutinitas yang padat, kedua imam mengaku tetap punya waktu bersenang-senang, dan tetap ingin menjadi anak muda yang cool.

Salat Tarawih di masjid IMAAM Center selama bulan Ramadan. (VOA/Eva M.)

Salat Tarawih di masjid IMAAM Center selama bulan Ramadan. (VOA/Eva M.)

Ifdal mengisi Sabtu atau libur kuliah dengan jalan-jalan bersama keluarga atau teman, makan-makan atau menonton di bioskop. Ia mengikuti Game of Throne, dan film terakhir yang ditontonnya, “Avenger Endgame.”

Muhamad rutin seminggu dua atau tiga kali menekuni hobi bela diri tradisional. Ia juga berkumpul dan ngobrol dengan teman-temannya.

Namun, keduanya menolak musik. Muhamad menyatakan, “It’s gonna distract from my quran.” (Ini (musik) akan mengalihkan perhatian dari (hafalan) quran saya).

Baik Ifdal maupun Muhamad memahami tuntutan imam. Karenanya, Ifdal berharap psikologi kelak membantunya sebagai imam. Muhamad ingin menjadi Imam yang menguasai Alquran dan juga ilmu-ilmu lainnya.

Harapan Muslim besar terhadap imam muda yang lahir atau besar di Amerika mengingat negara ini kekurangan pasokan imam, dan ‘mengimpor’ imam belakangan kerap terbentur soal pengurusan visa (izin tinggal di AS).

Ifdal dan Muhamad diharapkan bisa menjadi imam sekaligus pembimbing agama, yang menguasai masalah khas Amerika dan menjawab dalam bahasa Inggris yang baik, sesuatu yang sangat dibutuhkan seiring makin berkembangnya jumlah Muslim dan masjid di negara ini. (ka)

Kantor Berita ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here