RSUD Labuha Selamatkan Pasien Usus Gangren

0
324076
Pasien usus gangren Yusuf Jafar (tengah) asal desa Jikotamo kecamatan Obi, bersama dokter spesialis bedah Alfie Barkah Akhsan. usai operasi di RSUD Labuha.

KantorBerita.id, Maluku Utara – Setahun belakangan ini, RSUD Labuha Halmahera Selatan menerima dua pasien usus gangren. Kondisi usus yang telah luka dan menghitam membuat pasien pertama yang datang awal 2017 lalu nyawanya tak dapat diselamatkan. Namun pada pasien kedua, meski dengan kondisi usus yang sama, tim RSUD Labuha sukses melakukan operasi pemotongan bagian gangren dan menyelamatkan nyawa pasien.

Pasien yang berhasil diselamatkan itu adalah Yusuf Jafar (48), warga Desa Jikotamo, Kecamatan Obi. Ia pertama kali datang ke RSUD dengan kondisi sebagian usus mengalami gangren akibat terjepitnya usus dan pembuluh darah karena penyakit hernia.

“Jadi karena hernianya didiamkan dan tidak segera dioperasi sehingga berpengaruh sampai ke usus,” ungkap dokter spesialis bedah Alfie Barkah Akhsan, Sp.B yang mengoperasi Yusuf kepada KantorBerita.id, Senin (05/02/2018).

Menurut dr. Alfie, pasien pertama dan kedua ini datang dengan kondisi yang mirip. Yakni sama-sama sudah mengalami infeksi atau sepsis berat akibat usus yang gangren tersebut. “Pada saat datang kesadarannya sudah menurun dan syok sepsis, yakni sepsis disertai menurunnya fungsi sirkulasi yang sangat vital untuk tubuh,” terangnya.

Saat pertama kali datang ke rumah sakit, keluhan Yusuf adalah rasa sakit di bagian perut yang sudah menyiksanya tiga hari belakangan. Sedangkan penyakit hernia diakuinya sudah sering timbul-hilang beberapa tahun terakhir.

“Saat datang itu saya lihat kondisinya sudah emergensi, maka atas persetujuan keluarga malam tanggal 26 Januari itu langsung dilakukan operasi,” kisah dr. Alfie.

Alfie menuturkan, penanganan dan operasi yang dilakukan terhadap pasien pertama dan kedua terbilang sama. Yakni dilakukan potong sambung usus yang gangren untuk membuang sumber infeksinya.

“Dan pasca operasi sama-sama masuk ruang ICU untuk evaluasi dan penanganan secara intensif dalam rangka pemulihan. Kondisi penyakit dan penanganan relatif sama namun hasil begitu berbeda,” akunya.

Pada kasus pasien pertama, sehari pasca operasi pasien tak dapat bertahan dan langsung meninggal dunia. Sedangkan pasien Yusuf berhasil bertahan melewati masa kritisnya. Pasca operasi, ia dirawat selama empat hari di ruang ICU, dilanjutkan perawatan empat hari di ruang rawat biasa.

“Setelah itu keluar dari rumah sakit, dan hari ini adalah hari ketiganya pasca keluar rumah sakit. Hari ini Pak Yusuf kembali ke rumah sakit untuk kontrol rawat jalan dan buka jahitan. Alhamdulillah beliau mengaku tak ada keluhan apa-apa,” ungkap dr. Alfie.

Dokter muda ini juga mengimbau warga agar tidak menunda-nunda memeriksakan diri jika merasa ada yang tak beres pada tubuh. “Jauh lebih baik lagi kalau bisa mencegah datangnya penyakit dengan menjalani pola hidup yang sehat secara baik dan benar,” tandasnya. (iel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here