Satu Media Online Lokal Diundang Sebagai Peserta Data Driven Journalisme

0
225749

KantorBerita.id, Maluku Utara – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Independen.id, bekerjasama CFI akan menyelenggarakan workshop Data Driven Journalism Master Class, di Morrissey Hotel, Jakarta Pusat, pada 9-11 Februari 2018. Kegiatan ini bertujuan mendukung jurnalisme yang lebih baik di Indonesia.

Pada workshop yang akan dilaksanakan selama tiga hari itu melibatkan peserta 5 editor dari Jakarta dan 15 editor luar Jakarta, satu orang editor media online lokal Kieraha.com.

“Dalam kegiatan ini peserta akan mendapatkan wawasan input konsep dan manfaat jurnalisme berbasis data, berbagi pengalaman implementasi beberapa media menerapkan data driven journalism di redaksi, serta pengetahuan untuk menerapkan jurnalisme berbasis data di media,” kata Hesthi Murthi, pelaksana kegiatan Data Driven Journalism Master Class, saat dihubungi, Kamis (01/02/2018).

Chief Editor Independen.id itu mengemukakan, rencana tindak lanjut setelah kegiatan tersebut, peserta akan mendapat dukungan untuk mengembangkan program jurnalisme data driven di media mereka, dan media akan diawasi dalam mengimplementasikan program ini.

Data driven adalah suatu metode yang digunakan oleh jurnalis untuk membaca pola atau trend terhadap sebuah kebijakan pemerintah maupun swasta. Metode tersebut cenderung mengunakan data-data kuantitatif yang dibuat oleh lembaga-lembaga itu.

Salah satu Redaktur KIERAHA.com, Budhy Taran Nurgianto, berterimakasih atas terpilihnya Kieraha.com sebagai salah satu peserta yang dipercaya. Meski begitu, pendekatan data driven oleh jurnalis dan media di Maluku Utara ini masih merupakan hal baru.

Budhy yang juga jurnalis penerima beasiswa Data Driven Journalism 2017 itu menambahkan, metode data driven yang digunakan oleh jurnalis dan media ini untuk melakukan uji coba atas klaim pemerintah melalui data-data dari mereka.

“Dari data awal itulah kemudian jurnalis menjadikannya sebagai bahan awal untuk meliput menggunakan pendekatan data driven journalism,” sambung dia.

Keterbukaan Data di Maluku Utara

Budhy mengemukakan, sejauh ini keterbukaan data di Maluku Utara masih minim. Bahkan sebagian daerah dari provinsi kepulauan itu cenderung tidak sama sekali.

“Yang mulai menerapkan data secara terbuka baru Ternate, mungkin karena kota ini menjadi pilot projeknya Maluku Utara jadi mulai agak bagus, tapi itu belum semua, ya,” kata Budhy yang pernah mengulik soal data-data kesehatan di daerah itu.

Budhy menceritakan, pengalamannya saat melakukan investigasi menggunakan pendekatan metode data driven jurnalisme. Misalkan, pemerintah di Maluku Utara mengklaim setiap tahun menerima tenaga dokter, perawat, dan bidan.

“Waktu itu saya spesifikasinya liputan kesehatan, jadi karena isu kesehatan itu saya mencari data ibu hamil, tenaga kesehatan, anggaran kesehatan, dan fasilitas kesehatan. Terus jumlah bidan, dokter, dan bagaimana pola penyebarannya. Rata-rata data yang saya dapatkan itu kebanyakan dari data BPS,” kata Budhy.

“Yang menariknya justru di provinsi tidak ada sama sekali. Makanya untuk menutupi itu saya cari di Kementerian Kesehatan. Karena di Kementerian Kesehatan itu kan ada menerbitkan buku Indonesia dalam Angka, sehingga saya bisa dapat itu.”

Dalam liputan yang kemudian diterbitkan di Kieraha.com dengan judul Ancaman Buat Ibunda di Pulau Terpencil itu, kemudian mendapatkan sebuah hipotesis tentang klaim pemprov Maluku Utara setiap tahun menerima tenaga kesehatan ternyata tidak berbading lurus dengan pelayanan kesehatan yang terjadi di lapangan.

“Setiap tahun pemerintah daerah selalu bilang menerima penambahan tenaga kesehatan ini. Dengan penambahan ini kita dapat menarik hipotesis bahwa bertambahnya tenaga dokter, perawat, dan tenaga bidan ini akan berdampak terhadap kualitas pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik, namun faktanya tidak seperti itu, tenaga kesehatan bertambah tapi justru pelayanan kesehatan tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan kasus kematian ibu hamil karena melahirkan terus meningkat, itu fakta yang saya temukan setelah menggunakan metode pengolahan data driven journalism ini,” kata Budhy melanjutkan.

“Saya menemukan kesalahannya adalah, penambahan tenaga kesehatan ini ternyata tidak ditempatkan di wilayah-wilayah yang kasus angka kematiannya tinggi.”

“Memang benar setiap tahun tenaga kesehatan seperti dokter bertambah, tapi tenaga dokter itu, pemerintah tidak mendistribusikan ke wilayah-wilayah yang memiliki angka kasus kematian bayi atau ibu hamil karena melahirkan itu tinggi, malah banyak dari mereka yang ditempatkan di Ternate, Tidore dan Tobelo, sementara kasusnya ada di pulau-pulau seperti Oba, Gane, Obi dan Taliabu.”

Hal serupa juga ditemukan saat pemerintah bilang setiap tahun alokasi anggaran kesehatan meningkat, seharusnya dengan anggaran kesehatan yang meningkat ini, layanan kesehatan terhadap masyarakat lebih membaik setiap tahun.

“Jadi anggarannya memang selalu naik, tapi faktanya tidak seperti itu, anggaran meningkat tetapi kalau dibedah secara mendalam, justru lebih banyak diperuntukkan untuk kegiatan yang sifatnya operasional, sementara untuk peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan itu anggarannya kecil,” sambung dia. (Ay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here