YLBH Minta Makam Korban Penembakan Polisi Dibongkar

1
223380
Tim Yayasan Lembaga Bantuan Hukum bertemu langsung pihak keluarga dan istri korban penembakan polisi.

KantorBerita.id, Maluku Utara – Kasus penembakan yang mengakibatkan kematian buronan Jefri Papilaya (30) oleh personel Polres Halmahera Selatan kini dilirik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Maluku Utara. YLBH mencium ada ketidakberesan dalam pelaksanaan prosedur penangkapan tersangka. Hilangnya nyawa tersangka kasus pencurian itu diduga diakibatkan polisi melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP).

Senin (05/02/2018) kemarin, tim YLBH yang berpusat di Ternate turun ke Halsel. Enam penasehat hukum yang turun tersebut adalah Sekretaris YLBH Bachtiar Husni, serta anggota Sulfi Majid, Rizky Septian, Basto Daeng Robo, Edy Muhammad, dan Fahrid Galitan.

Di Halsel, YLBH menemui Kapolres Halsel maupun istri Jefri, Ufi Towara (18), untuk mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak. Setelah pertemuan dengan pihak polres maupun keluarga korban, Sekretaris YLBH Bachtiar Husni menuturkan adanya perbedaan keterangan antara kedua belah pihak.

“Ada dua argumen berbeda dari kedua belah pihak. Karena itu, kami minta polisi transparan dalam menindaklanjuti kasus ini. Sebab akan kami kawal sampai tuntas,” tuturnya.

Bachtiar menilai, perlunya penanganan kasus tersebut dibuka ke publik. Pasalnya, ada dua versi penembakan yang sudah diketahui publik. “Dan apabila oknum polisi nantinya terbukti bersalah, maka dia harus ditindak,” ujarnya.

YLBH sendiri telah berkoordinasi dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Saksi (Kontras) untuk menangani kasus tersebut. Menurut Bachtiar, YLBH diutus Kontras untuk mengumpulkan data-data terkait kasus tersebut di lapangan.

“Karena menurut kajian kami, apapun alasannya, polisi tidak bisa langsung menembak korban. Sesuai SOP, harus ada tembakan peringatan dulu. Kalau pun korban melawan, lumpuhkan. Bukan dibunuh,” terangnya.

Dia menambahkan, tak menutup kemungkinan makam Jefri akan dibongkar kembali agar jenazahnya dapat diotopsi.

“Supaya pertanyaan-pertanyaan apakah korban dianiaya atau tidak seperti pengakuan istri bisa terjawab. Nanti dibuktikan lewat hasil otopsi, biar jelas,” ujar Bachtiar. (iel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here